Libur Lebaran dan Momentum Kebangkitan Desa Wisata

Diterbitkan Pada

25 Mar 2026

Kategori

Opini

Libur Lebaran dan Momentum Kebangkitan Desa Wisata

Oleh: Mochammad Abdi
Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Provinsi Sumatera Barat & Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Libur Lebaran selalu menjadi momen yang dinantikan masyarakat Indonesia. Selain sebagai waktu untuk bersilaturahmi, periode ini juga identik dengan meningkatnya aktivitas wisata keluarga. Namun, di balik euforia tersebut, persoalan klasik seperti kemacetan menuju destinasi wisata unggulan kembali terulang setiap tahun.

Di Sumatera Barat, lonjakan wisatawan saat Lebaran kerap terpusat pada destinasi-destinasi populer. Akibatnya, kenyamanan berwisata justru berkurang karena padatnya arus lalu lintas dan membludaknya pengunjung. Dalam konteks ini, kita perlu mulai menggeser cara pandang terhadap pilihan destinasi wisata, terutama dengan melirik potensi besar desa wisata.

Desa wisata bukan sekadar alternatif, melainkan solusi strategis. Ia menawarkan pengalaman yang lebih autentik—menyatu dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Di tengah tren pariwisata global yang mulai bergeser ke arah pengalaman berbasis komunitas dan keberlanjutan, desa wisata memiliki posisi yang sangat relevan.

Sumatera Barat sesungguhnya memiliki kekayaan desa wisata yang luar biasa. Dari lanskap alam yang indah, tradisi adat yang kuat, hingga ragam kuliner khas, semuanya merupakan daya tarik yang tidak kalah dibandingkan destinasi wisata massal. Sayangnya, potensi ini belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal.

Momentum libur Lebaran yang masih panjang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemerataan kunjungan wisata. Wisatawan tidak lagi terfokus pada satu atau dua titik, melainkan menyebar ke berbagai desa wisata yang tersebar di kabupaten dan kota. Dengan demikian, beban destinasi utama dapat berkurang, sementara desa-desa mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung.

Lebih dari itu, pengembangan desa wisata juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Ia membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong pelestarian budaya lokal. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan wisata, maka keberlanjutan sektor ini akan lebih terjamin.

Namun, tentu saja pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur dan aksesibilitas, sekaligus meningkatkan promosi berbasis digital. Sementara itu, masyarakat perlu dibekali dengan kapasitas pengelolaan wisata yang profesional dan berorientasi pada pelayanan.

Sebagai bagian dari Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Provinsi Sumatera Barat, saya melihat bahwa minat terhadap desa wisata terus menunjukkan tren positif. Tinggal bagaimana kita mengelola momentum ini secara tepat, termasuk pada periode libur Lebaran seperti sekarang.

Sudah saatnya desa wisata tidak lagi diposisikan sebagai pilihan kedua. Ia harus menjadi arus utama dalam pembangunan pariwisata daerah. Libur Lebaran tahun ini dapat menjadi titik balik—bahwa berwisata tidak harus identik dengan kemacetan, keramaian berlebih, dan kelelahan.

Sebaliknya, berwisata bisa menjadi pengalaman yang tenang, bermakna, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat lokal. Dan desa wisata adalah jawabannya.

Bagikan Berita

Kontak

Hubungi kami melalui alamat, email, atau telepon.

Alamat Kampus

Kampus Padang

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah Padang, 25172

Kampus Bukittinggi

Jl. By Pass Aur Kuning, Tarok Dipo, Kec. Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, 26131

Kampus Payakumbuh

Jl. Soekarno Hatta No. 12 (area Koto Nan Ampek), Koto Nan IV, Kota Payakumbuh, 26219

Lokasi Kami

Temukan Kami di Peta

Kunjungi lokasi kampus kami dengan mudah melalui peta interaktif di bawah ini.